SEMARANG, 23 JULI 2010Permasalahan seputar gas elpiji yang sekarang ini sedang marak, ternyata juga berimbas pada pedagangpedagang kecil yang menjual tabung elpiji. Pasalnya, mereka menjadi sedikit resah, jika nantinya masyarakat atau calon pembeli sudah tak lagi percaya dengan elpiji. Salah satunya yang dialami Sri Sula-ah, salah seorang pedagang tabung elpiji di PKL Kokrosono, Semarang. Dia mengaku menjadi sedikit khawatir dengan permasalahan elpiji saat ini. Pasalnya, dengan rumor ataupun kejadiankejadian yang belakangan terjadi, bisa menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap elpiji, sehingga usahanya pun tersendat. ”Ya sedikit takut juga. Tapi mau gimana lagi, yang namanya usaha ya seperti ini,’’ kata Sri, ketika ditemui Wawasan, Selasa (20/7). Ya, Sri merupakan salah satu dari sekian banyak pedagang gas elpiji yang ada di kota Semarang. Dia mengaku pertama kali memutuskan berjualan gas elpiji lantaran melihat kebijakan pemerintah yang mengimbau masyarakat untuk beralih menggunakan gas elpiji. Sehingga dia berpikir, bisnis ini akan sangat menjanjikan. Namun kenyataannya, gas elpiji sekarang ini malah menjadi bahan perbincangan. Bukan karena kelebihannya, tetapi karena banyak persoalan yang diakibatkan oleh gas elpiji itu. Sebut saja, kelangkaan dan ledakan. Belum lagi sekarang berhembus kabar adanya gas elpiji yang palsu. ”Wah rumit sekarang. Tapi dijalani sajalah,’’ imbuh Sri lagi. Sebagai penjual, dirinya pun tetap memperhatikan keamanan dan kepuasan masyarakat. Untuk itu, dia selalu selektif dalam menjual elpijinya. Prinsipnya, jangan sampai ada yang dirugikan dari usahanya. Wanita paruh baya ini selalu menyuguhkan barang-barang yang sudah melalui hasil seleksi. Barang bagus Meskipun bekas, tapi paling tidak masih layak dan aman untuk digunakan masyarakat. Karena sejatinya, Sri termasuk orang yang merasakan bagaimana dilemanya masyarakat akibat perpindahan dari kayu bakar atau minyak tanah ke penggunaan gas elpiji. ”Kalau barangnya bagus, berani saya jual. Kalau cacat ya nggak. Takut kalau terjadi sesuatu. Nanti saya yang disalahkan,’’ akunya. Itulah potret pedagang kecil penjual elpiji di tengah-tengah persoalan yang terjadi. Begitu ironisnya, ketika mereka tetap berjualan sedangkan permasalahan tentang elpiji terus bermunculan. Semuanya demi melanjutkan kehidupan. Dia pun sebagai masyarakat umum dari kalangan kecilpun, pada dasarnya tak sependapat dengan kebijakan pemerintah. Alasannya, karena harga elpiji yang cenderung mahal dibandingkan sebelumnya, saat menggunakan minyak tanah. Akan tetapi, meskipun sekarang ini menggunakan gas elpiji, Sri tetap memanfaatkan minyak tanah untuk kesehariannya. Gas elpiji yang dipunyai pun berasal dari subsidi pemerintah. Untuk itu, dia berharap pemerintah agar terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang elpiji yang aman dan baik. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan pengamanan yang lebih ketat, agar elpiji yang terjual di masyarakat adalah elpiji yang bagus dan baik. |