SEMARANG , 06 FEBUARI 2009Kalau jamu tradisional identik dengan rasa pahit, tidak demikian dengan jamu jun. Jamu ini berasa manis rempah sehingga lebih menyerupai wedang. Dengan minum jamu jun dua manfaat dapat diperoleh sekaligus, yakni badan sehat, dan perut nyaman. Ya, jamu jun minuman tradisional yang nikmat dan berkhasiat. Minuman kental itu dibuat dari campuran air, tepung beras, tepung ketan, santan, gula jawa, gula pasir, daun pandan, serta 18 jenis rempah yang disebut sariwangi batanget. Bahan rempah antara lain jahe, serai, merica, dan kayu manis. Dinamakan jamu jun, lantaran saat dijajakan, minuman itu ditaruh dalam jun (wadah air dari gerabah). Agar senantiasa hangat, bagian luar jun dibungkus dengan daun jati. Jamu jun disajikan menggunakan mangkuk. Sebagai penyedap, ditambah dengan bubuk merica, selo (bubuk putih dari bahan herbal), serta bola-bola kecil berwarna coklat yang dinamakan krasikan (dibuat dari campuran parutan kelapa, jahe, gula merah, dan tepung ketan). Dulu jamu jun banyak dijajakan pedagang, namun kini relatif jarang. Salah satu penjual jamu jun yang masih eksis adalah Karsipah (45). Setiap hari dia mangkal di Pasar Gangbaru, kawasan Pecinan Semarang. Perempuan asal Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang, Demak ini sudah menjajakan jamu jun sejak 15 tahun lalu. Dia mewarisi pekerjaan itu secara turun temurun dari nenek moyangnya dulu. Menurut Karsipah, jamu jun produk asli Poncoharjo, Bonang. Bertahun-tahun sebagian warga desa itu membuat dan menjualnya sebagai mata pencaharian. Selain di Demak, mereka juga menjajakan jamu jun di Semarang. Bahkan dalam perkembangannya, minuman penghangat itu lebih dikenal sebagai khas Semarang. ”Sekarang, warga Poncoharjo yang membuat dan menjual jamu jun tinggal sekitar 10 orang. Lebih dari separonya ider di Semarang. Tapi saya ndak tahu, di mana persisnya mereka jualan,” katanya. Relatif Murah Karsipah sendiri baru tiga tahun mangkal di Pasar Gangbaru. Dia menempati dasaran milik Jatmi, ibunya, yang sudah tak lagi berjualan. Sebelum itu, Karsipah membuka dasaran di Pasar Johar. Dia memilih pindah karena di Gangbaru jumlah pembelinya relatif lebih banyak. ”Pagi sampai siang saya jualan di Gangbaru. Agak sore keliling ke kampung-kampung di sekitar Kauman. Sehari saya bisa habis dua jun. Selain jual eceran, saya juga sering dapat pesanan untuk acara resepsi,” ujar Karsipah yang mengontrak rumah di Kampung Sukolilo. Harga jamu jun relatif murah, semangkuk cuma Rp 2.000. Jika satu jun berisi 50 mangkuk jamu, omzet Karsipah dalam sehari rata-rata Rp 200.000. Sebagian hasil penjualan dipakai kembali untuk membeli bahan baku. Beberapa bahan cukup dibeli di Semarang, namun khusus ramuan sariwangi batanget hanya bisa diperoleh di Pasar Bintoro, Demak.(56) (suaramerdeka ) • Oleh Rukardi |