SEMARANG,05 FEBRUARI 2010 Pasien pertama yang berhasil menjalani operasi transplantasi (cangkok) hati di Indonesia, Ulung Hara Hutama (4), dirawat di RSUP dr. Kariadi Semarang, karena mengalami diare. "Usai operasi sekitar empat tahun lalu, kondisi Ulung memang lebih rentan terinfeksi virus," kata Lisa Olivia (32), ibunda Ulung, yang ditemui ketika menunggu anaknya di Ruang Anak RSUP dr. Kariadi Semarang, di Semarang, Kamis. Pada Rabu (3/2), Bilqis Anindya Passa, bayi berusia sekitar 17 bulan yang menderita "atresia bilier" (saluran empedu tidak terbentuk atau berkembang sempurna) juga tiba di RS itu untuk operasi cangkok hati. Ia mengatakan, Ulung dirawat di RSUP dr Kariadi sejak tiga minggu lalu. Rawat inap kali ini, katanya, sebagai yang kedua. Setelah Lebaran 2009, Ulung juga sempat dirawat karena mengalami keluhan yang sama. "Bilirubinnya (pigmen kuning hasil pemecahan hemoglobin dalam hati) agak meninggi dan membuatnya rentan terkena virus sehingga harus mengonsumsi obat setiap sehari untuk menetralisir dan meningkatkan daya tahan tubuhnya," katanya. Ia mengatakan, Ulung yang kini berusia 4 tahun 6 bulan itu menjalani operasi cangkok hati di RSUP dr. Kariadi Semarang pada 1 Oktober 2006. Kesuksesan operasi itu, katanya, memberikan harapan baru keluarga terhadap kondisi Ulung. "Dalam kesehariannya Ulung memang mudah menderita sakit, meskipun penyakit yang dideritanya masih dapat dikategorikan ringan seperti batuk dan pilek," katanya didampingi ayah Ulung, Didik Ngudi Hutama (41). Ia menjelaskan, aktivitas sehari-hari Ulung sebenarnya sama dengan anak-anak lainnya. Namun, katanya, keluarga harus bersikap ekstra hati-hati mengawasi anak itu saat bermain seperti memperhatikan tingkat sterilitas. "Usai menjalani operasi cangkok hati, Ulung harus kontrol kesehatannya setiap satu minggu sekali, kemudian berlanjut menjadi dua minggu sekali. Saat ini Ulung harus kontrol setiap bulan," katanya. Didik juga mengakui, Ulung diperlakukan secara istimewa di lingkungan keluarga seperti ruang kamar tidurnya yang dilapisi dengan kaca untuk menghindari masuknya virus. "Bahkan, apabila ada keluarga atau tamu yang ingin berkunjung namun dalam keadaan sakit, kami meminta agar mereka tidak datang ke rumah dulu sebelum sembuh, dan kami juga meminta maaf untuk itu," katanya. Pada kesempatan itu ia juga mengharapkan, orang tua Bilqis tidak boleh menyerah dengan kondisi kesehatan bayi yang memiliki kesamaan dengan Ulung itu. Mereka, katanya, harus optimistis terhadap kesembuhan putrinya. "Kondisi Bilqis dan Ulung dulu juga sama dengan perut membesar dan kulit yang menguning sehingga orang tua Bilqis harus mengikuti seluruh saran dokter agar semuanya berjalan lancar," katanya. Penggagas tim cangkok hati RSUP dr. Kariadi Semarang, Prof. dr. A.G. Soemantri, juga mengakui, pihaknya telah berhasil melakukan dua kali operasi cangkok hati yakni terhadap Ulung dan satu orang lainnya yang tidak mau namanya dipublikasikan. "Kasus yang dialami Bilqis berbeda dengan Ulung. Bilqis sebelumnya pernah menjalani operasi kasai (operasi bedah perut untuk menyambung hati ke usus halus) sedangkan Ulung saat itu belum pernah," kata Soemantri yang juga ahli darah tersebut. |