SEMARANG,29 JULI 2010Aparatur di Kota Semarang harus tunduk dan patuh pada atasan. Inilah yang ditekankan Wali Kota Soemarmo HS kepada camat dan lurah dalam rapat koordinasi (rakor) di Ruang Loka Krida Gedung Balai Kota, Rabu (28/7). ’’Loyalitas itu harus lurus, tidak bengkok, sesuai herarkinya masing-masing,’’ kata dia. Kemarin dia mengumpulkan seluruh camat dan lurah. Meski koordinasi itu tertunda, tetapi dalam daftar hadir tak ada satu pun camat maupun lurah yang mangkir. Didampingi Wakil Wali Kota Hendrar Prihadi, dia menekankan dengan loyalitas yang kuat akan terbangun sebuah tim yang solid. Tidak bisa dipungkiri, diselenggarakannya Pilwalkot lalu menjadikan PNS di lingkungan pemkot terbelah, mengingat calon kepala daerah yang maju didominasi kalangan internal. Seperti Soemarmo yang saat itu dicopot jabatannya dari Sekda Kota, ada pula Harini Krisniati yang merupakan Plt Sekda. Tampil pula Mahfudz Ali yang saat itu masih menjabat sebagai wakil wali kota, ditambah M Farchan dari Bappeda. Dengan usainya pemilukada, Soemarmo menegaskan tidak ada lagi kubu-kubuan. ’’Yang lalu biarlah berlalu, dikubur dalam-dalam. Mari bersama-sama kembali bekerja membangun Kota Semarang,’’ kata dia. Yang diperlukannya sekarang ini adalah membangun konsolidasi internal. Karena itu, menjawab apakah ada penataan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), ia memilih untuk saat ini belum melakukannya, termasuk soal pendefinitifan jabatan Sekda yang masih berstatus pejabat pelaksana tugas (Plt), belum diperlukan. ’’Penataan SKPD serta jabatan Sekda pasti ada, cuma tidak bisa sekarang. Kami harus konsolidasi internal supaya solid,’’ katanya. Di sisi lain, posisi M Farhan dan Harini Krisniati masih menjadi staf di bagian Staf Ahli Wali Kota. Farhan diserahi tugas untuk membantu proyek Waduk Jatibarang dan normalisasi Banjirkanal Barat, sedangkan Harini sejauh ini belum ada kepastian tugas yang diembannya. |